Solusi atau Ilusi? Dampak Distribusional Upah Minimum terhadap Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Jawa, Indonesia

Penelitian Kebijakan

Meski kebijakan upah minimum telah diterapkan secara luas untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, dampaknya terhadap ketahanan pangan rumah tangga masih belum banyak dikaji. Penelitian ini mengkaji peran upah minimum kabupaten/kota dalam memengaruhi ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia, dengan fokus pada Pulau Jawa. Kami menggunakan regresi kuantil tak bersyarat dengan fungsi pengaruh yang dipusatkan kembali (recentered influence functions) guna menangkap dampaknya di berbagai jenis rumah tangga. Untuk mengatasi bias akibat variabel yang tidak disertakan dalam estimasi pengaruh upah minimum, kami menerapkan model efek tetap dua arah yang dimodifikasi dengan memasukkan efek tetap kabupaten/kota dan efek tetap pasangan kabupaten/kota-tahun. Model ini memperhitungkan perbedaan struktural serta guncangan ekonomi regional yang dialami bersama oleh pasangan kabupaten/kota tersebut. Dengan menggunakan data rumah tangga tahunan dari Susenas, kami menilai dua dimensi ketahanan pangan: akses terhadap pangan, yang diproksikan dengan pengeluaran pangan per kapita, dan pemanfaatan pangan, yang diukur berdasarkan konsumsi harian kalori, karbohidrat, lemak, dan protein per kapita. Hasil estimasi menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum belum efektif dalam meningkatkan akses rumah tangga terhadap pangan maupun pemanfaatannya. Peningkatan pengeluaran pangan yang teramati lebih mencerminkan kenaikan harga kalori dan zat gizi makro, bukan perbaikan kualitas konsumsi pangan. Sedikit peningkatan asupan lemak yang terjadi sebagian besar didorong oleh penurunan konsumsi protein. Kondisi rumah tangga miskin bahkan lebih buruk. Meski sebagian rumah tangga miskin menyesuaikan alokasi konsumsi zat gizinya, rumah tangga miskin lainnya mengalami penurunan konsumsi protein. Namun, kondisi ini kemungkinan berkaitan dengan pilihan rumah tangga. Rumah tangga miskin memiliki keleluasaan untuk mengurangi pengeluaran nonpangan, tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Temuan ini menunjukkan bahwa menaikkan upah minimum dan menyempurnakan kebijakannya saja tidak cukup untuk memperkuat ketahanan pangan. Intervensi tambahan yang terintegrasi dengan kebijakan upah minimum, seperti pemberian voucer pangan, sangat direkomendasikan.


Saran Sitasi:

Satyadharma, J.F., Sulistyaningrum, E. Solution or illusion? The distributional impact of minimum wage on household food security in Java, Indonesia. Food Sec. (2026). https://doi.org/10.1007/s12571-026-01719-9

Bagikan laman ini

Penulis 
Jonathan Farez Satyadharma
Eny Sulistyaningrum
Penulis
Eny Sulistyaningrum
Wilayah Studi 
Banten
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Kata Kunci 
dampak distribusional
efek tetap pasangan kabupaten/kota-tahun
ketahanan pangan
upah minimum
regresi kuantil tak bersyarat
Tipe Publikasi 
Artikel Jurnal
Publisher Name 
Food Security, Springer Nature