|
home | about us |
divisions & staff | publications |
![]() |
working paper |
Social Impact of
the Crisis in Indonesia: Sudarno Sumarto Anna Wetterberg and Lant Pritchett* Download Full Report: Abstract This paper is based on a qualitative survey of three expert respondents in every kecamatan (sub-district) in Indonesia, designed to obtain a quick indication of overall impacts of the Indonesian crisis. Questions cover the degree of different types of impacts (migration, access to health and education, food availability), the frequency of different types of coping strategies (selling assets, reducing frequency of meals, etc), and the most severe impacts in each area. Indices were constructed to measure crisis impact along five dimensions. There are three main findings. First, urban areas have been harder hit by the crisis than rural areas. Second, the impact of the crisis is very heterogeneous, with some regions experiencing great difficulties and others doing relatively well. Both rural and urban areas on Java have been hard hit by the crisis. Some of the other islands, particularly large parts of Sumatra, Sulawesi, and Maluku, have experienced minimal negative crisis impact. Other areas show negative impact, but it is unclear whether problems are economic crisis-related or result from drought (East Timor, NTT, NTB) and fires (East Kalimantan). Third, there is little connection between initial poverty levels and the extent to which an area has been hit by the crisis, with some relatively poor areas are not hard hit while some relatively well off areas have been quite hard hit. This implies crisis impact targeting and poverty program targeting are two, quite different exercises. The consistency of the results with other quantitative surveys also show that this type of quick turnaround, largely qualitative instrument can give a good overview of degrees of crisis impact in different areas and trends in overall changes. Although results require further validation and cross checking for use in the design of crisis response programs, this kind of survey can point response efforts in the right direction. Because of its low cost and quick turnaround, a similar survey could also be repeated after six months in an effort to provide on-going monitoring of crisis impacts. * Support from the Ford Foundation and ASEM Trust Fund is gratefully acknowledged. The authors would also like to thank the many people who contributed to the design of the questionnaire, including Scott Guggenheim, Sarah Cliffe, Brigitte Duces, Steven Burgess, and Syaikhu Usman. BPS was responsible for data collection and Peter Gardiner and his team at INSAN HITAWASANA SEJAHTERA carried out the empirical work. The findings and conclusions expressed in this paper are entirely those of the authors. They do not necessarily represent the views of the World Bank, its Executive Directors, or the countries they represent. Table of Contents I. Background Dampak Sosial dari Krisis di
Indonesia: Sudarno Sumarto, Anna Wetterberg, dan Lant Pritchett* Abstrak Makalah ini ditulis berdasarkan hasil-hasil survey kualitatif yang dilakukan terhadap tiga orang ahli di setiap kecamatan di seluruh Indonesia. Survey ini dirancang untuk memperoleh gambaran secara cepat dan menyeluruh mengenai dampak krisis yang terjadi di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mencakup berbagai jenis dampak (migrasi, akses terhadap sarana kesehatan dan pendidikan, ketersediaan pangan), frekuensi penggunaan berbagai jenis kiat penanggulangan (penjualan aset, pengurangan frekuensi makan, dan lain-lain), dan dampak terbesar yang dialami oleh masing-masing daerah. Kemudian disusun beberapa indeks untuk mengukur dampak krisis yang mencakup lima segi. Terdapat tiga temuan utama. Pertama, dampak krisis di daerah perkotaan lebih parah dibandingkan dengan daerah pedesaan. Kedua, dampak krisis ini sangat heterogen, dimana terdapat beberapa daerah yang mengalami kesulitan parah sementara daerah-daerah lain relatif baik keadannya. Tetapi di pulau Jawa baik daerah pedesaan maupun perkotaan sama-sama mengalami dampak yang parah. Beberapa daerah di pulau-pulau lain, khususnya sebagian besar Sumatera, Sulawesi, dan Maluku, mengalami dampak krisis yang tidak terlalu besar. Ada juga daerah-daerah yang memperlihatkan keadaan yang memburuk, namun tidak jelas apakah ini merupakan dampak dari krisis ekonomi ataukah akibat dari musim kemarau (Timor Timur, NTT, NTB) dan kebakaran (Kalimantan Timur). Ketiga, terdapat kaitan yang kecil antara tingkat kemiskinan awal dengan derajat besarnya dampak krisis, dimana terdapat beberapa daerah yang relatif miskin yang ternyata tidak begitu terkena krisis sementara terdapat beberapa daerah lain yang lebih makmur yang ternyata mengalami dampak krisis yang besar. Implikasi dari hal ini adalah bahwa sasaran dari program penanganan krisis dan sasaran dari program pengentasan kemiskinan merupakan dua hal yang sangat berbeda. Konsistensi dari hasil survey ini dengan hasil penelitian-penelitian lain yang bersifat kuantitatif menunjukkan bahwa suatu instrumen kualitatif dengan jangka waktu pelaksanaan yang singkat seperti yang digunakan dalam penelitian ini mampu memberikan gambaran yang baik mengenai derajat dampak krisis di berbagai daerah dan kecenderungan dari keseluruhan perubahan yang mereka alami. Meskipun hasil penelitian ini memerlukan pengesahan lebih jauh serta pemeriksaan silang untuk dapat digunakan dalam perancangan program-program penanganan krisis, survey jenis ini mampu mengarahkan upaya-upaya penanganan krisis ke arah yang benar. Karena biayanya rendah dan jangka waktunya singkat, survey sejenis dapat diulang setelah enam bulan sebagai suatu usaha untuk melakukan pemantauan berlanjut dari dampak krisis ini. * Bantuan dari Ford Foundation dan ASEM Trust Fund sangat dihargai. Para penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu merancang daftar pertanyaan, termasuk Scott Guggenheim, Sarah Cliffe, Brigitte Duces, Steven Burgess, dan Syaikhu Usman. Pengumpulan data dilakukan oleh BPS dan analisisnya dilakukan oleh Peter Gardiner dan tim-nya dari INSAN HITAWASANA SEJAHTERA. Penemuan dan kesimpulan yang tertulis dalam artikel ini seluruhnya dari para penulis dan belum tentu mewakili pandangan dari Bank Dunia, para Direktur Eksekutifnya, ataupun negara-negara yang mereka wakili. Daftar Isi I. Latar Belakang II. Survey dan Metoda III. Analisis Propinsi dan Kabupaten IV. Dampak-dampak Khusus dari Krisis V. Kesimpulan Lampiran
|
The findings, views, and interpretations published in this report are those of
the authors and should not be attributed to the SMERU Research Institute
or any of the agencies providing financial support to SMERU.
For further information, please contact SMERU, Phone: 62-21-3193 6336;
Fax: 62-21-3193 0850; E-mail: smeru@smeru.or.id
home | about us | divisions & staff | publications
newsletters | news from the region | ngo database
employment opportunities | links