Research Report
June 2000

Download Report
746 kbyte, pdf file


Hasil Pengamatan Lapangan Cepat Tim SMERU:
Krisis Ekonomi dan Tenaga Kerja ter-PHK Lulusan Universitas/Akademi:
Adaptasi Terhadap Realitas Pasar Kerja Baru

Advisor:
Chris Manning

Team:
Musriyadi Nabiu, Sri Budiyati, Hastuti, Wawan Munawar, Akhmadi, Pamadi Wibowo, Bambang Soelaksono, Sri Kusumastuti Rahayu

Ringkasan

Laporan ini ditulis berdasarkan hasil pengamatan cepat Tim Dampak Krisis SMERU terhadap tenaga kerja terdidik (Sarjana dan Sarjana Muda/D3) yang kehilangan pekerjaan karena pemutusan hubungan kerja sebagai akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia selama dua setengah tahun terakhir ini. Wawancara dilakukan di kota Medan, Bandung dan Makassar pada bulan Januari-Pebruari 2000. Responden adalah mereka yang sebelumnya bekerja di sektor perbankan dan konstruksi, serta satu sektor penting lainnya di masing-masing lokasi, baik yang sudah bekerja kembali maupun yang belum.

Hasil pengamatan menunjukkan, bahwa secara umum nasib S-PHK tidak separah perkiraan semula. Dalam situasi sulit mereka masih dapat memenuhi kebutuhan pokok (makan, kesehatan, pendidikan anak, dsb) karena adanya uang pesangon, mulai merintis kegiatan usaha, atau dibantu oleh orang tua/mertua/keluarga yang menjadi 'Jaring Pengaman Sosial' yang sesungguhnya di masa krisis. Kebanyakan mereka telah dapat memperoleh pekerjaan kembali atau mempunyai kegiatan usaha dalam kurang dari tiga bulan. Hampir separuh dari responden merasa cukup mantap dengan pekerjaan barunya karena kni berpenghasilan lebih tinggi, terutama responden di Medan. Separuh responden lainnya masih mengalami kondisi sebaliknya. Yang terakhir ini sangat berharap kondisi ekonomi dan keamanan segera pulih agar dapat bekerja kembali di sektor formal.

Temuan lapangan mengungkapkan bahwa ternyata PHK telah membuka peluang bagi sebagian responden untuk memperoleh penghasilan lebih besar meskipun sekarang tidak lagi bekerja di sektor formal. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah dengan demikian para pekerja ini telah mengalami perubahan kultur, dari sebagai pegawai atau karyawan di sektor formal, menjadi wirausahawan? Kalau jawabannya "ya", hal ini tentu akan memberikan sumbangan positif pada perekomian Indonesia, terutama dalam melakukan usaha-usaha pemulihan perekonomian paska krisis. Lalu bagaimana jika perubahan ini hanya untuk sementara, misalnya hanya semasa krisis?

Bagi S-PHK yang belum bekerja, mereka sangat memerlukan informasi, tidak sebatas info ketenagakerjaan, tetapi juga tentang kegiatan usaha yang layak dimasuki. Banyak responden mengikuti program pelatihan pemerintah seperti P3T cenderung untuk mendapatkan informasi, mengembangkan jaringan dan mendapat uang saku, tidak sekedar untuk mendapatkan ketrampilan usaha. Peran Departemen Tenaga Kerja dalam memberikan informasi yang lebih baik dan akurat sangat diharapkan, tidak hanya sebagai pelaksana program seperti yang dilakukan banyak departemen pemerintah saat ini. Fleksibilitas dan transparasi berbagai program nampaknya perlu ditingkatkan.

Secara umum, temuan utama di lapangan sebagai berikut:

  1. S-PHK telah mengalami suatu 'goncangan mental' akibat kehilangan pekerjaan, tetapi mereka masih dalam posisi mampu mengatasi situasi, terutama karena adanya uang pesangon yang disimpan di bank, uang simpanan sendiri, atau dari penjualan aset yang dimiliki.
    Berdasarkan data statistik nasional, secara keseluruhan tidak tampak adanya peningkatan pengangguran S-PHK semenjak krisis.

  2. Sebagian besar S-PHK merasa tidak memiliki harapan memperoleh lapangan kerja baru di sektor formal. Pada tahap awal banyak yang memperoleh penghasilan dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan usaha dagang, kemudian membuka usaha kecil atau mencari lapangan kerja baru. Sebagian kecil masih belum bekerja atau keluar dari pasar kerja (terutama untuk mengurus rumah tangga/anak).

  3. Keberhasilan dalam memperoleh sumber penghasilan baru umumnya sangat tergantung pada tingkat inisiatif dan kreativitas individu, yang tidak mudah diukur dengan indikator konvensional. Meskipun demikian, akses terhadap pesangon, adanya pengalaman kerja diluar pekerjaan utama sebelumnya, dan latar belakang pendidikan formal di bidang ilmu terapan atau pekerjaan di bidang keuangan cukup berperan.

  4. Umumnya kebijakan pemerintah berdampak relatif kecil terhadap keberhasilan sebagian besar tenaga sarjana yang kehilangan pekerjaan. Meskipun demikian, penegakan ketentuan pemberian pesangon dan dukungan pemerintah dalam program pelatihan cukup membantu.

  • Program P3T dapat membantu beberapa sarjana, tetapi program ini masih mempunyai kelemahan dalam perencanaan, implementasi program di beberapa lokasi, serta pemantauannya.

  • Sebagian besar perusahaan swasta tidak dalam posisi dapat membantu S-PHK mendapatkan pekerjaan baru. Namun beberapa perusahaan besar ada yang membantu memberikan program pelatihan, termasuk dalam upaya mempersiapkan S-PHK menjadi wirausahawan baru.

  1. Kesimpulan-kesimpulan diatas berlaku di semua wilayah meskipun terdapat variasi penting, antara lain:

  • Medan: S-PHK relatif lebih mampu beradaptasi daripada di dua kota lainnya. Budaya wirausaha yang lebih kuat serta kondisi ekonomi yang lebih baik merupakan faktor utama keberhasilan.

  • Makassar: Kinerja S-PHK sebenarnya cukup karena didukung oleh kondisi ekonomi regional, tetapi masih terhambat oleh keterbatasan peluang di sektor swasta, serta tingginya penghargaan masyarakat terhadap status pegawai pemerintah atau pekerjaan bergaji lainnya.

  • Bandung: Situasi paling kurang kondusif dialami di kota Bandung, di mana tingkat persaingan dalam memperoleh pekerjaan baru jauh lebih ketat, serta kondisi ekonomi regional (seperti di Jakarta) sangat dipengaruhi oleh dampak krisis.


Daftar Isi

I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Ruang Lingkup Studi
1.4 Metode Pengamatan

1.4.1 Sampel
1.4.2 Pengumpulan Data

II. Ketenagakerjaan Sebelum dan Sesudah Krisis:
Kecenderungan Data Nasional

2.1 Latar Belakang Masalah
2.2 Pengaruh Krisis Ekonomi

2.2.1 Perubahan Menurut Daerah
2.2.2 Dampak Krisis terhadap yang Terdidik dan Kurang Terdidik
2.2.3 Penganggur Menurut Umur

2.3 Dimensi Regional
2.4 Kesimpulan

III. Adaptasi Pada Realitas Pasar Kerja Baru:
Pengalaman Para Pekerja ter-PHK

3.1 Karakteristik Sosial dan Demografi dari Sampel
3.2 Pekerjaan dan Penghasilan Sebelum Krisis
3.3 Pengalaman waktu Menganggur dan Kehilangan Pekerjaan
3.4 Strategi untuk Mendapatkan Lapangan Kerja Baru

3.4.1 Strategi
3.4.2 Pesangon dan Penggunaannya
3.4.3 Akses Informasi dalam Mendapatkan Pekerjaan

3.5 Pekerjaan setelah di PHK

3.5.1 Tingkat Penghasilan Sekarang
3.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan

3.6 Aspirasi setelah Krisis: Perubahan dalam Budaya Kerja?

IV. Peran Pemerintah dan Sektor Swasta Terhadap Para Pekerja ter-PHK

4.1 Proses PHK dan Pasca PHK
4.2 Informasi Pasar Kerja
4.3 Program Pelatihan dan Dukungan untuk Mempekerjakan Kembali Pengangguran

V. Pelajaran dan Saran Kebijakan

5.1 Pelajaran
5.2 Saran Kebijakan

Daftar Bacaan

Lampiran


Current Research | Upcoming Event | Publication
NGO Database | Links | About Us | Divisions & Staff
Visiting Scholars & Interns | Employment Opportunities | Home

The findings, views, and interpretations published in this report are those of
the authors and should not be attributed to the SMERU Research Institute
or any of the agencies providing financial support to SMERU.
For further information, please contact SMERU, Phone: 62-21-3193 6336;
Fax: 62-21-3193 0850; E-mail:
smeru@smeru.or.id