SMERU Indonesia |
|
SMERU n Monitoring the Social Crisis in Indonesia n No. 09 / January-April 2000 |
|
| AND THE DATA SAY | Previous | Back to Table of Content |
Since the outbreak of the Indonesian crisis there have been a number of
estimates on poverty rates, using different large scale (but not necessarily nationally
representative) household surveys. These estimates, however, use different bases as the
"pre-crisis" poverty rate and different methods of updating the poverty line, so
that they are not directly comparable in either levels or changes. By creating a
consistent series of poverty estimates based on these different sources, we are able to
track how poverty rates have changed over the course of the crisis. In addition to three
estimates from BPS, there are four sources with poverty estimates for at least two points
in time:
We start the series by using SMERU's poverty rate estimate of 9.75 percent in February 1996 and then adjust all the other estimates to be consistent with this base1. For convenience, we will present the evolution of poverty in terms of a poverty index instead of a poverty rate and convert the lowest poverty rate before the crisis to an index of 100. All the results are shown in Figure 1 and they tell a remarkably consistent and plausible story about the evolution of poverty during the crisis, with the exception of the December 1998 estimates from the Mini Susenas and "100 Village Survey". We begin with a poverty index of 148 in February 1996. After falling to a pre-crisis low by around one third in mid 1997, the poverty index then increased so that by the second half of 1998 it was roughly 80 percent higher than the February 1996 level, or more than two and a half times the estimated pre-crisis low in mid 1997. This explosion in the poverty index coincides with the beginning of the crisis, followed by its worsening in January 1998, the political crisis in May 1998, rapid inflation with lagging nominal wages and incomes, and the rapid increase in the price of rice in August 1998. Since that point, poverty first stabilized and then appeared to have declined again. If we allow a line to not pass through the anomalous point in December 1998, this paints a very reasonable picture as it neatly tracks known events (e.g. macroeconomic stabilization, rice prices) around which the data show a striking consensus. After February 1999, a fall in the relative price of rice combined with a modest rise
in real expenditures appears to have led to a reduction in poverty. However, two years
after the crisis started, poverty still appeared to be higher than its pre-crisis level.
|
Sejak krisis moneter menerpa Indonesia, telah banyak kajian yang dilakukan mengenai perkiraan tingkat kemiskinan dengan menggunakan berbagai survei rumah tangga berskala besar (meskipun secara nasional belum tentu mewakili). Namun, perkiraan-perkiraan tersebut didasarkan pada tingkat kemiskinan "pra-krisis" yang berbeda, dan metoda yang berbeda pula untuk mendapatkan garis kemiskinan yang terakhir, sehingga perkiraan-perkiraan tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung, baik untuk tingkat kemiskinan maupun perubahannya. Dengan menyusun suatu seri perkiraan angka tingkat kemiskinan yang konsisten berdasarkan sumber-sumber tersebut, maka kita dapat menelusuri perubahan tingkat kemiskinan yang terjadi selama masa krisis. Disamping tiga angka tingkat kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS, terdapat empat sumber lain yang mengeluarkan angka tingkat kemiskinan sedikitnya pada dua waktu yang berbeda, yaitu:
Kita awali seri ini dengan menggunakan perkiraan angka kemiskinan SMERU sebesar 9,75% untuk bulan Pebruari 1996, dan kemudian menyesuaikan semua angka lainnya agar konsisten dengan dasar penghitungan ini1. Untuk memudahkan, maka perubahan tingkat kemiskinan selama masa krisis ditampilkan dalam bentuk angka indeks kemiskinan dengan mengubah angka tingkat kemiskinan terendah sebelum krisis menjadi 100. Seluruh hasil perhitungan dapat dilihat pada Gambar 1 yang memberikan gambaran perubahan tingkat kemiskinan selama periode krisis berlangsung yang sangat konsisten dan masuk akal, dengan perkecualian untuk perkiraan bulan Desember 1998 dari Mini Susenas dan Survei 100 Desa. Kita awali dengan angka indeks kemiskinan pada bulan Pebruari 1996 sebesar 148. Setelah jatuh ke angka terendah sekitar sepertiga pada pertengahan tahun 1997, angka indeks kemiskinan kemudian meningkat kembali sehingga pada pertengahan tahun 1998 menjadi sekitar 80 persen lebih tinggi dari tingkat kemiskinan pada bulan Pebruari 1996, atau lebih dari dua setengah kali lipat dari perkiraan terendah pra-krisis pada pertengahan tahun 1997. Kenaikan tingkat kemiskinan ini bersamaan dengan mulainya krisis, diikuti oleh keadaan yang semakin memburuk pada bulan Januari 1998, krisis politik pada bulan Mei 1998, inflasi tinggi dengan upah dan pendapatan nominal yang tertinggal, serta kenaikan harga beras yang melejit pada bulan Agustus 1998. Setelah itu, tingkat kemiskinan tampak mulai stabil dan kemudian sedikit menurun. Bila kita menarik suatu garis yang tidak melalui titik anomali pada bulan Desember 1998, kita akan mendapatkan gambaran perkembangan tingkat kemiskian yang sangat masuk akal karena sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi (misalnya stabilisasi perekonomian makro, perkembangan harga beras) dimana data yang ada menunjukkan konsistensi yang tinggi. Setelah bulan Pebruari 1999, turunnya harga relatif beras dan ditambah dengan sedikit kenaikan pengeluaran riil telah menurunkan tingkat kemiskinan. Akan tetapi, dua tahun setelah krisis bermula, tingkat kemiskinan tampak masih lebih tinggi daripada sebelum krisis. n |
|||
|
||||