SMERU Indonesia |
|
SMERU n Monitoring the Social Crisis in Indonesia n No. 08 / September-November 1999 |
|
| AND THE DATA SAY | Previous | Back to Table of Content | Next |
| The Social Safety Net
programs (or SNN) which were created by the Government of Indonesia in early 1998, were
intended to help protect those families who had recently been reduced to poverty as a
result of the crisis as well as those who were living in poverty long before the crisis.
The programs include those designed to ensure the availability of food at affordable
prices, to supplement purchasing power through employment creation, and to preserve access
to critical social services, particularly in health and education. This study is a preliminary evaluation of the effectiveness of the SSN programs in achieving their purpose of helping the poor and the needy to cope with the impacts of the crisis. It assesses the coverage of the programs among the poor and the distribution of the program benefits between the poor and the non-poor. The data used in the analysis were collected through the December 1998 round of the ?100 Village Survey? (SSD) by the Indonesian Central Agency of Statistics (BPS). The SSD, sponsored by UNICEF and implemented by BPS, collected data from 12,000 households. This survey covered 100 desa located in 10 kabupaten spread across 8 provinces. 1 |
Program Jaring Pengaman
Sosial atau program JPS dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia pada awal tahun 1998 dengan
tujuan untuk melindungi kelompok miskin baru akibat krisis moneter, serta mereka yang
sejak semula miskin. Program JPS meliputi pengadaan bahan pangan yang terjangkau daya beli
masyarakat, meningkatkan daya beli masyarakat dengan cara menciptakan lapangan kerja, dan
penyediaan akses layanan sosial, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Kajian ini merupakan suatu evaluasi awal mengenai efektivitas JPS dalam mencapai tujuannya untuk membantu mereka yang miskin ketika krisis melanda. Kajian ini dilakukan dengan mengukur cakupan program bagi keluarga miskin, dan membandingkan distribusi manfaat program di antara mereka yang miskin dan yang tidak miskin. Data yang dianalisis berasal dari "Survey Seratus Desa" (SSD) putaran bulan Desember 1998. SSD disponsori oleh UNICEF dan dilaksanakan oleh BPS terhadap 12.000 KK. Survei ini meliputi 100 desa di 10 kabupaten yang tersebar di 8 propinsi. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Tabel 1. Cakupan dan
Sasaran Program Operasi Pasar Khusus Berdasarkan Konsumsi Kuantil per Kapita Table 1. Coverage and Targeting of Cheap Rice Program by Per Capita Consumption Quintiles
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| The question about the SNN
programs in the SDD questionnaire asked whether or not a family 'participated' in a given
program in the last three months, but did not include any attempt to estimate the
magnitude of the benefits or their impacts. So the focus was not on the impacts of the
crisis but simply on the coverage of the SSN program, mainly the number of the poor who
participated in the program, and its targeting effectiveness, or the fraction of the
program benefits that actually went to the poor.2 The study was conducted in three steps:
firstly, the samples in each kabupaten were grouped into quintiles of per capita
expenditure where the first quintile (Q1) was classified as the poor, while the second to
fifth quintiles (Q2-Q5) were classified as non-poor; secondly, the program coverage was
calculated for each quintile to find the percentage of households in each quintile which
were the program beneficiaries; and thirdly, the targeting effectiveness was calculated
for each program as the ratio of participation of the non-poor in a program compared to
the fraction of non-poor in the sample. These SSN programs were selected for analysis: the so called cheap rice program (OPK), the labor-intensive employment creation program, and the primary school scholarship component of the SSN education program. The results of the coverage and targeting effectiveness of these selected programs implemented in fiscal year 1998/99 using the above outlined methods are presented in Tables 1, 2, and 3. In all cases, the ten kabupaten included in the survey are ranked in order from the highest to lowest program coverage. Table 4 recapitulates the coverage of the poor and the targeting ratios in all programs from Tables 1 to 3. This table shows the magnitude of the coverage (the lowest quintile) and the targeting ratio of each program, as well as indicating the rank of each kabupatens relative performance in each of the programs. To make it easier to identify the best performing kabupaten in each program, their coverage of the poor and targeting ratio numbers are given in bold type. For example, for the cheap rice program, the four best performing kabupaten in terms of the coverage of the poor are Rembang, Banjarnegara, Kendari, and South Lampung. In terms of the targeting ratio the four best are Indragiri Hilir, Pandeglang, South Sumedang, and Karang Asem. Identification of the best performing kabupaten in other programs has been done in the same manner. In addition, Table 4 can be used as a score card to indicate the relative performance of any one kabupaten compared to the others. For example, in terms of program coverage of the poor, Rembang has the highest number of programs, and hence can be considered the best performing kabupaten in the group. Three boldface numbers indicate this. However, the kabupaten with the lowest performance scores are Karang Asem, Pandeglang, Sumedang, and Kutai. None of these display bold type. In terms of the targeting ratio, the kabupaten with the highest number of best performances within a certain program are Indragiri Hilir, Pandeglang, Sumedang, Rembang, and Karang Asem. There are two boldtype scores in each of these kabupaten. On the other hand, the kabupaten with the lowest performance scores are South Lampung and Kutai. No program in either kabupaten places them in the category of the best four in terms of the targeting ratio. The case of Rembang, the kabupaten which has the highest numbers of best performances in terms of both program coverage and targeting ratio, seems to suggest that a kabupaten which receives a lot of resources will have a better chance to achieve good program coverage and targeting of the poor. On the other hand, Pandeglang, Sumedang, and Karang Asem are the three kabupaten with the lowest performance scores in terms of program coverage, but at the same time one of them, Pandeglang, has the highest number of best performances in terms of targeting ratio. This appears to imply that program coverage can be quite independent from effective targeting toward the poor. Unfortunately, the overall findings of this study indicate that in many cases the programs due to low coverage and loose targeting have largely missed the intended target beneficiaries. It should be emphasized, however, that the effectiveness of the SSN program varies between particular programs and from one region to another. This raises an interesting avenue for future research to account for these targeting outcomes. The general conclusion from this study points to the need for a substantial improvements in the implementation of these programs, in particular in targeting the intended beneficiaries of a particular program and increasing the coverage within the target group. |
Pertanyaan kuestioner SSD
berkaitan dengan JPS hanya menyangkut apakah keluarga responden ikut atau tidak dalam
program JPS yang telah diadakan selama tiga bulan terakhir. Pertanyaan tidak mencakup
perkiraan mengenai besarnya manfaat atau dampak program terhadap responden. Dengan
demikian fokus kajian tulisan ini adalah pada cakupan program JPS, yaitu berapa jumlah
keluarga miskin yang ikut serta dalam program, dan efektivitas sasaran, yaitu berapa
bagian dari manfaat program yang telah diterima oleh keluarga miskin. Kajian ini dilakukan
dalam tiga langkah: pertama, sampel dari masing-masing kabupaten dikelompokkan menurut
pengeluaran per kapita berdasarkan kuantil, dimana kuantil pertama (Q1) diklasifikasikan
sebagai keluarga miskin, sedang kuantil ke dua hingga ke lima (Q2-Q5) sebagai keluarga
tidak miskin; kedua, cakupan program dihitung untuk masing-masing kuantil, yaitu: untuk
memperoleh persentase keluarga dalam masing-masing kuantil yang menjadi penerima program;
dan ketiga, efektivitas sasaran masing-masing program dihitung sebagai perbandingan
partisipasi keluarga tidak miskin dalam program tersebut dibandingkan dengan persentase
keluarga tidak miskin dalam sampel. Program yang dipilih untuk kebutuhan analisis adalah: OPK atau Operasi Pasar Khusus, program padat karya atau penciptaan lapangan kerja, dan program beasiswa Sekolah Dasar sebagai komponen program JPS dibidang pendidikan. Hasil dari cakupan dan efektivitas sasaran beberapa program JPS yang dilaksanakan dalam tahun anggaran 1998/99 dengan menggunakan metoda tersebut diatas disampaikan dalam Tabel 1,2, dan 3 berikut ini. Dalam semua tabel, 10 kabupaten yang dikaji disusun menurut urutan tertinggi hingga terendah. Tabel 4 merekapitulasi semua cakupan program untuk keluarga miskin dan efektivitas sasaran dari Tabel 1 hingga 3. Pada Tabel ini disajikan besarnya cakupan keluarga miskin (kuantil terendah) dan efektivitas sasaran untuk masing-masing program, serta urutan kinerja relatif tiap kabupaten dalam pelaksanaan masing-masing program yang tercantum. Untuk mempermudah identifikasi kabupaten dengan kinerja terbaik dalam suatu program, maka cakupan mereka terhadap keluarga miskin dan angka efektivitas sasaran dicetak dengan huruf tebal. Misalnya, untuk program OPK, empat kebupaten yang mempunyai kinerja terbaik dalam cakupan keluarga miskin adalah Kabupaten Rembang, Banjarnegara, Kendari dan Lampung Selatan, sementara empat kabupaten terbaik di bidang efektivitas sasaran adalah Kabupaten Indragiri Hilir, Pandeglang, Sumedang dan Karang Asem. Identifikasi kabupaten dengan kinerja terbaik dalam pelaksanaan program-program lainnya juga dapat dilakukan dengan cara sama. Di samping itu, Tabel 4 dapat digunakan sebagai kartu penilaian untuk menunjukkan kinerja relatif masing-masing kabupaten dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Misalnya, di bidang cakupan program bagi keluarga miskin, Kabupaten Rembang mempunyai jumlah program tertinggi di mana kabupaten ini menjadi salah satu dari kabupaten dengan kinerja terbaik. Hal ini terlihat dari tiga angka dicetak dengan huruf tebal. Sebaliknya, kabupaten-kabupaten yang mempunyai angka kinerja terendah adalah Kabupaten Karang Asem, Pandeglang, Sumedang dan Kutai. Keempat kabupaten itu tidak mempunyai angka yang dicetak dengan huruf tebal. Dalam hal efektivitas sasaran, kabupaten yang mempunyai angka tertinggi sebagai kabupaten dengan kinerja tinggi di bidang program tertentu adalah Kabupaten Indragiri Hilir, Pandeglang, Sumedang, Rembang dan Karang Asem. Masing-masing kabupaten mempunyai dua angka dengan huruf tebal. Sebaliknya, kabupaten dengan kinerja terendah adalah Kabupaten Lampung Selatan dan Kutai. Tak ada satupun program menempatkan kedua kabupaten ini dalam jajaran empat besar dalam kategori efektivitas sasaran. Kinerja Kabupaten Rembang yang mempunyai angka tertinggi sebagai kabupaten berkinerja terbaik baik di bidang cakupan keluarga miskin maupun efektivitas sasaran menunjukkan bahwa suatu kabupaten yang menerima banyak sumber daya akan mampu memperoleh cakupan program dan mencapai sasaran keluarga miskin yang baik. Sebaliknya, Pandeglang, Sumedang dan Karang Asem adalah tiga kabupaten yang mempunyai kinerja rendah mengenai cakupan program keluarga miskin, tetapi pada saat yang sama salah satu dari kabupaten tersebut, yaitu Pandeglang, mampu mendapat angka tertinggi dalam efektivitas sasaran. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan program bisa saja tidak terkait dengan efektivitas penentuan sasaran keluarga miskin. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tabel
2. Cakupan dan Sasaran Program Padat Karya Berdasarkan Konsumsi Kuantil per Kapita
Tabel 3. Cakupan dan Sasaran Program
Beasiswa Sekolah Dasar Berdasarkan Konsumsi Kuantil per Kapita
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Our next step in evaluating
the effectiveness of the SSN programs is to separate the permanent and the
transitory components of household income and expenditure to capture the
impact of the crisis on household income, and also to identify more important components
to be used as the determinant of participation in the SSN or program recipients.n AS,YS,SSm
|
Secara umum, temuan dari
kajian ini membuktikan bahwa dalam banyak hal kelompok sasaran tidak terjaring oleh
program JPS karena cakupannya rendah dan penentuan sasaran program tidak ketat. Perlu
ditekankan bahwa efektivitas masing-masing program berbeda, tergantung pada jenis program
dan wilayah. Temuan ini membuka peluang bagi tim untuk melakukan kajian lebih lanjut untuk
menjelaskan penyebab perbedaan hasil sasaran antar kabupaten. Kesimpulan umum kajian ini
adalah masih dibutuhkan perbaikan mendasar dalam pelaksanaan program, terutama dalam
menetapkan pihak penerima program, dan dalam meningkatkan cakupan di dalam kelompok
sasaran. Kajian lebih lanjut dalam mengevaluasi efektivitas program JPS adalah memisahkan komponen "permanen" dan "sementara" dari pendapatan dan pengeluaran rumah-tangga agar dapat mengetahui dampak krismon terhadap pendapatan rumahtangga, dan untuk mengetahui komponen mana yang lebih penting sebagai penentu keikutsertaan dalam program JPS atau sebagai penerima manfaat program. n AS,YS,SSm Tabel 4. Rekapitulasi Cakupan dan Sasaran Tiga Program JPS (Empat ranking
tertinggi pada masing-masing kategori dicetak dalam warna merah)
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||