SMERU Indonesia

SMERU n Monitoring the Social Crisis in Indonesia n No. 06 / June-July 1999

AND THE DATA SAY Previous | Back to Table of Content

Dimensi ‘Jender’ dalam Krisis:
Fakta dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia
Gender Dimensions of the Crisis:
Evidence from the Indonesian Family Life Survey

Elizabeth Frankenberg, Duncan Thomas and Kathleen Beegle

 

Few Indonesians have remained untouched by the crisis of the last two years. The effects of the crisis vary by region, across socio-economic groups, and across demographic groups. In particular, there may be important and complex gender-differentiated impacts. Results from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) suggest that there are important and significant differences in impacts and responses to the crisis by gender. These results suggest the importance of further research focusing on the gender dimensions of the crisis in the immediate term as well as the longer-run implications of these impacts.

The Indonesia Family Life Survey (IFLS) is an on-going longitudinal survey of individuals, households, families, and communities in Indonesia. The first wave was conducted in August-December, 1993, and the second wave in August-February 1997/8. In an effort to respond to the needs of the policy and scientific communities, a special wave of the IFLS, IFLS2+, was undertaken in late 1998. The IFLS2+ reinterviewed individuals from 2,000 households that had been interviewed one year earlier as part of IFLS2. The panel design of the IFLS allows the comparison of responses in the 1997 interview with the same person's (or household's) situation in 1998.

Education

Preliminary results of the impact on educational attainment tell a complex story. For both primary and secondary school aged children, enrollment rates have declined and dropout rates have increased. Children from poorer households have been hardest hit with respect to schooling. These patterns hold for boys and girls. Whereas in 1997 per capita expenditure levels were not a barrier to school attendance, by 1998 they matter. Although scholarships and fee waivers for poor children could serve to make schooling less costly, the IFLS data does not suggest that that was happening in the initial months of the 1998 school year.

The results for dropout and enrollment rates suggest that the schooling of boys and girls have not been differentially impacted. But, changes in the share of the budget allocated to schooling add to the story. Specifically, among poor urban households, there is a suggestion that young men (15-19) have been protected from the more severe cuts in education spending relative to their sisters and, especially, their younger siblings (ages 10-14). Thus, while we don't see differences in extensive measures of human capital investment, like school enrollment, more intensive measures, such as amount of funds allocated, reveal gender differences that suggest girls are at a disadvantage.

Employment

For men, in terms of overall levels of employment, about the same fraction of men were working at the time of the 1998 interview as were working in 1997. However, a larger fraction of younger men are working, while a smaller fraction of older men are working in1998 relative to 1997. Findings from the IFLS indicate that women across all age and education groups are more likely to work in 1998 than in 1997. In the aggregate, the increase in portion working reflects largely an entrance of self-employed/unpaid family workers. One interpretation of the evidence is that women have entered the labor force in an effort to shore up family income in the face of very substantial real wage and income declines for the average family.

Household expenditure and income

These responses to the crisis are reflected in household incomes and expenditures. Decreases in expenditure tend to be smaller for households with relatively more females in 1997, suggesting that they contribute important resources to households. This result is also reflected in poverty transitions. In the IFLS, controlling for other characteristics, households with more women between the ages of 15-24 were more likely to exit and less likely to enter poverty between 1997 and 1998.

Impact of the crisis: into the future

The IFLS offers an array of information about how Indonesians are responding to the crisis and suggests that some of the differences have potentially important gender dimensions. These results also suggest that medium and long-run effects of the crisis may be quite different from the immediate impacts. Implications for well-being of the next generation will depend on the magnitude and persistence of the short-run impacts. For example, cutting back on investments in human capital of young children and young women may mean that these groups will carry the burden for the rest of their lives.

Sebagian kecil dari bangsa Indonesia tetap tidak terjamah oleh krisis yang berlangsung selama dua tahun terakhir. Pengaruh krisis berbeda menurut daerah, kelompok sosio-ekonomi, dan kelompok demografis. Lebih jelasnya, terdapat kemungkinan dampak-dampak perbedaan 'jender' yang penting dan kompleks. Hasil-hasil dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) memberi kesan bahwa dampak dan tanggapan krisis terhadap ‘jender’ berbeda nyata. Hasil survei ini menyarankan pentingnya penelitian lebih lanjut yang menekankan pada dimensi 'jender' sebagai akibat langsung dari krisis maupun implikasi jangka panjang dari dampak tersebut.

Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) adalah sebuah survei secara longitudinal yang berkesinambungan terhadap individu, rumah tangga, keluarga, dan komunitas di Indonesia. Tahap pertama telah dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 1993, dan gelombang kedua telah dilaksanakan pada bulan Agustus 1997 hingga Pebruari 1998. Dalam upaya memenuhi kebutuhan kebijaksanaan dan kesamaan ilmiah, tahapan khusus IFLS, yaitu IFLS2+, telah dilaksanakan menjelang akhir tahun 1998. Pada pelaksanaan IFLS2+ telah dilakukan wawancara ulang terhadap 2,000 rumah tangga yang telah diwawancarai tahun sebelumnya, yaitu pada saat pelaksanaan IFLS2. Bentuk survei IFLS2+ telah dirancang sedemikian rupa sehingga respon atas wawancara yang telah dilaksanakan pada tahun 1997 dapat dibandingkan dengan individu (ataupun rumah tangga) yang sama pada kondisi tahun 1998.

Pendidikan

Hasil awal dampak terhadap pendidikan memberi gambaran yang kompleks. Bagi anak-anak usia pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, jumlah yang mendaftar masuk mengalami penurunan, dan sebaliknya jumlah yang putus sekolah justru mengalami peningkatan. Anak-anak yang datang dari keluarga miskin paling terkena dampak terhadap pendidikan. Pola tersebut berlaku baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Bahwa tingkat pembelanjaan per kapita pada tahun 1997 bukan merupakan alasan untuk tidak mengikuti sekolah, akan tetapi pada tahun 1998 hal tersebut ternyata merupakan alasan untuk tidak meneruskan sekolah. Walaupun pemberian bea siswa dan pembebasan biaya sekolah bagi anak-anak miskin dapat menurunkan biaya sekolah, akan tetapi menurut data yang diperoleh IFLS, hal tersebut tidak banyak membantu pada permulaan tahun ajaran 1998.

Tingkat anak putus sekolah dan anak yang mendaftar sekolah menggambarkan tidak adanya perbedaan dampak terhadap pendidikan anak laki-laki maupun anak perempuan. Akan tetapi, perubahan yang terjadi pada bagian pembelanjaan yang dialokasikan bagi pendidikan memberikan kejelasan. Khusus pada keluarga miskin, laki-laki usia muda (15-19 tahun) relatif mendapat perlindungan atas pengurangan biaya pendidikan dibandingkan dengan adik perempuannya, terutama yang masih berusia lebih muda (10-14 tahun). Dengan demikian, walaupun tidak ditemukan perbedaan dalam tindakan yang berpengaruh luas pada investasi sumber daya manusia, seperti jumlah yang mendaftar sekolah, namun tindakan yang berpengaruh luas, misalnya alokasi dana, menunjukkan adanya perbedaan terhadap 'jender' yang memberi kesan bahwa anak perempuan dirugikan.

Pekerjaan

Bagi anak laki-laki, pada seluruh tingkat pekerjaan, jumlah laki-laki yang memiliki pekerjaan saat dilakukan wawancara pada tahun 1998 kurang lebih sama dengan jumlah yang bekerja pada tahun 1997. Akan tetapi, banyak laki-laki berusia muda, sementara hanya sebagian kecil laki-laki berusia lanjut yang bekerja di tahun 1998 dibandingkan dengan tahun 1997. Temuan yang diperoleh IFLS menunjukkan bahwa jumlah wanita, baik dari segi umur dan kelompok pendidikan, lebih banyak bekerja pada tahun 1998 dibandingkan dengan tahun 1997. Secara keseluruhan, peningkatan jumlah yang bekerja tersebut menggambarkan banyaknya orang yang melakukan usaha sendiri/tenaga kerja keluarga yang tidak diupah. Salah satu bukti tersebut adalah bahwa kaum wanita bergabung dengan tenaga kerja yang ada dalam usaha untuk menopang upah riil dan pendapatan keluarga yang telah mengalami penurunan sangat berarti bagi kebanyakan keluarga.

Pendapatan dan belanja rumah tangga

Reaksi-reaksi terhadap dampak krisis tersebut terlihat pada pendapatan dan belanja rumah tangga. Penurunan belanja condong lebih kecil pada rumah tangga dengan jumlah wanita yang lebih banyak pada tahun 1997, yang memperlihatkan bahwa mereka telah menyumbangkan sumber daya yang penting bagi rumah tangga. Hasil temuan ini juga tercermin dalam transisi kemiskinan. Di hasil IFLS, dengan memperhatikan karakteristik-karakteristik lainnya, rumah tangga dengan jumlah wanita lebih banyak berusia 15-24 tahun ternyata lebih besar kemungkinannya untuk keluar dari garis kemiskinan dan ternyata lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi miskin di antara tahun 1997 dan 1998.

Dampak dari krisis: Menjelang masa depan

Hasil dari IFLS menyediakan berbagai informasi mengenai bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi krisis yang berlangsung dan menggambarkan ada beberapa perbedaan yang memiliki potensi dimensi 'jender' yang penting. Hasil-hasil tersebut juga memperlihatkan bahwa pengaruh jangka menengah dan jangka panjang dari krisis akan sangat berbeda dari dampak langsung yang terjadi. Implikasinya adalah bahwa kesejahteraan generasi masa depan akan bergantung dari besar dan berkelanjutannya dampak jangka pendek. Sebagai contoh, pembatasan pada penanaman sumber daya manusia pada anak-anak muda maupun perempuan dapat berarti bahwa kelompok-kelompok itu akan menanggung beban tersebut sepanjang hidup mereka.


The Indonesia Family Life Survey is a collaborative effort by RAND, Lembaga Demografi, and the UCLA. The data collection was funded by the National Institute on Aging, the National Institute for Child Health and Human Development, the Futures Group (the POLICY project), the Hewlett Foundation, the International Food Policy Research Institute, John Snow International (OMNI project), the United Nations Population Fund, the World Bank, and the World Health Organization.
The findings outlined here are drawn from "The Real Costs of Indonesia's Economic Crisis: Preliminary Findings from the Indonesia Family Life Survey," written by Elizabeth Frankenberg, Duncan Thomas and Kathleen Beegle. This report and other information about the Indonesia Family Life Survey can be accessed at: www.rand.org/FLS/IFLS.

Survei Kehidupan Keluarga Indonesia merupakan usaha bersama, dilaksanakan oleh RAND, Lembaga Demografi, dan UCLA. Biaya pengumpulan dana diperoleh dari the National Institute on Aging, the National Institute for Child Health and Human Development, the Futures Group (the POLICY project), the Hewlett Foundation, the International Food Policy Research Institute, John Snow International (OMNI project), the United Nations Population Fund, the World Bank, dan the World Health Organization.
Temuan yang dikemukakan di sini diambil dari "Kerugian Riil akibat Krisis Ekonomi Indonesia: Hasil Temuan Awal dari Survei Kehidupan Keluarga Indonesia" (The Real Cost of Indonesia's Economic Crisis: Preliminary Findings from the Indonesian Family Life Survey) yang ditulis oleh Elizabeth Frankenberg, Duncan Thomas dan Kathleen Beegle. Laporan ini maupun informasi lainnya mengenai Survei Kehidupan Keluarga Indonesia dapat ditemukan melalui www.rand.org/FLS/IFLS.

Previous | Back to Table of Content