SMERU Indonesia

SMERU n Monitoring the Social Crisis in Indonesia n No. 04 / March-April 1999

SPOTLIGHT ON Back to Table of Content | Next

Program Padat Karya Jaring Pengaman Sosial
Labor Intensive & Community Fund Social Safety Net Programs

As part of the Government’s Social Safety Net strategy that has been put in place to provide assistance to those sections of society who have been worst affected by the economic crisis, a number of programs have been designed to provide emergency short term employment opportunities. These programs have been labelled Padat Karya or labor intensive programs.

If these programs are to be a really effective way to channel precious resources to those who are most in need, careful attention must be paid to ensuring that there are proper mechanisms in place to guarantee accurate targeting, to ensure prompt and reliable delivery of funds, and to safeguard against money and resources falling into the wrong hands. All parties seem to agree that successful programs need transparency at all levels, proper accountability, and ways of ensuring that communities are fully consulted in all aspects of the planning and implementation of these projects.

One particular program, the PDM-DKE community fund program currently being implemented by local governments and supervised by Bappenas, has been the subject of considerable public comment and media reporting over recent months. This is not surprising: PDM-DKE is an extremely ambitious program attempting to deliver large amounts of assistance to nearly every region of the country over an extremely short time frame. In this issue of the newsletter we include a summary of a special SMERU appraisal of the preliminary stages of this program, based on investigations conducted in thirteen different locations in four provinces.

By way of contrast, we include articles on a number of other aspects of traditional Padat Karya-style aid programs: an overview of a World Bank-financed GOI drought relief program using this approach, and a report on NGO monitoring and participation in SSN programs in one particular province, Nusa Tenggara Barat.

There have been many items appearing in the press in recent weeks reporting cases of malnourishment in various parts of the country, especially affecting young children. We are also aware of anecdotal accounts describing the difficulties facing poor families who are no longer able to afford protein and nutrient-rich foodstuff such as eggs as a regular part of their daily diet. But accurate and reliable data is what is required to verify these reports. In the data section of our newsletter we are including a summary of the major findings of recent investigations conducted by the widely respected health research body, Helen Keller International, which reveal an alarming decline in the nutritional status of poor women and children in two major urban areas, locations that we know have been deeply affected by the economic crisis. These are preliminary findings but suggest a disturbing trend with important policy implications for Government, community organisations and donor agencies. n JM

Sebagai bagian dari strategi Jaring Pengaman Sosial yang selama ini dicanangkan pemerintah untuk membantu masyarakat terkena dampak krisis paling parah, banyak program yang kemudian dibentuk, salah satunya adalah dengan membuka lapangan kerja sementara. Program inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Padat Karya.

Jika program ini memang merupakan jalan keluar yang efektif untuk menyalurkan bantuan dana kepada mereka yang paling membutuhkan, kita harus benar-benar memastikan bahwa program ini telah memiliki ketepatan mekanisme demi menjamin pencapaian target yang akurat, penyaluran dana bantuan yang cepat dan dapat dipercaya, dan menghindarkan jatuhnya dana bantuan tersebut kepada orang yang tidak berkepentingan. Semua pihak tampaknya setuju bahwa kesuksesan program membutuhkan transparansi pada tiap tahap pelaksanaan, pertanggung-jawaban yang benar, dan cara untuk memastikan bahwa masyarakat tingkat lokal telah diberi bimbingan yang benar mulai dari aspek perencanaan hingga implementasi tiap-tiap proyek.

Salah satu program yang sedang digalakkan oleh BAPPENAS adalah PDM-DKE yang belakangan ini menjadi sorotan publik dan topik utama di berbagai media massa. Hal ini tidak mengherankan, karena PDM-DKE adalah program yang luar biasa ambisius untuk menyalurkan bantuan dalam jumlah besar dan hanya dalam waktu singkat kepada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Dalam edisi buletin kali ini, kami mengulas singkat penilaian tim SMERU terhadap tahap awal pelaksanaan program tersebut, berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di tiga belas lokasi berbeda di empat propinsi.

Sebagai bahan perbandingan, kami juga memasukkan artikel mengenai Program Padat Karya dipandang dari berbagai aspek: gambaran program bantuan Bank Dunia atas bencana kekeringan dengan menggunakan pendekatan program, dan laporan pemantauan oleh LSM serta partisipasinya dalam program JPS di salah satu propinsi, Nusa Tenggara Barat.

Banyak hal yang muncul di media massa pada minggu-minggu terakhir, melaporkan kasus-kasus kekurangan gizi di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya yang berdampak pada anak kecil. Kami juga menaruh perhatian besar pada berbagai laporan mengenai kesulitan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga miskin yang tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan akan protein dan makanan padat-gizi, seperti telur, sebagai bagian dari makanan sehari-hari. Akan tetapi data yang akurat dan dapat dipercaya adalah satu hal penting yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran laporan tersebut. Di bagian ‘data’ pada edisi ini, Anda dapat membaca ringkasan temuan penting yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Helen Keller International, suatu badan riset kesehatan mendunia, yang mengungkapkan penurunan mengkhawatirkan pada status gizi wanita dan anak-anak miskin di dua daerah perkotaan, lokasi yang selama ini telah diketahui terkena dampak krisis paling parah. Ini hanya merupakan temuan awal, tetapi telah menunjukkan kecenderungan menggelisahkan dengan implikasi kebijaksanaan yang penting untuk pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan badan-badan penyandang dana.

Akhir kata, selamat membaca! n JM

Back to Table of Content | Next