SMERU Indonesia

SMERU n Monitoring the Social Crisis in Indonesia n No. 04 / March-April 1999

AND THE DATA SAY Previous | Back to Table of Content | Next

Dampak Krisis Pada Status Kesehatan dan Gizi
Masyarakat Kurang Mampu
The Impact of the Crisis on the Health & Nutritional Status of the Poor

As SMERU reported in two recent newsletters, several quantitative datasets have generated new information on the social impacts of Indonesia's crisis. These analyses found that:

  • The crisis' impact is quite serious, but heterogeneous and complex, hitting some regions and social groups quite hard and others less so.

  • The intensity of the crisis' impacts does not correlate with pre-crisis poverty measures.

  • Urban areas have been hit hard by the crisis.

Analyses of preliminary data collected by Helen Keller International since the beginning of January this year as part of their Nutrition Surveillance System have generated specific information about the impact of the crisis on some of the most vulnerable groups -- HKI reports an alarming prevalence of micronutrient and energy deficiencies among poor women and children in Jakarta & Surabaya.

  • Anemia and vitamin A deficiency are increasing among under-five children and their mothers

  • there is a high prevalence (20%) of wasting among mothers as measured by the body mass index (BMI), and it is increasing

  • the situation is far worse in urban slums now than at the crisis' lowest point in rural areas (measured in June-August 1998)

What do these findings mean for Indonesians?

  • Vitamin A deficiency threatens not only blindness but also illness from damaged immune systems

  • iron deficiency anemia impairs the immune system and reduces physical and mental capacity, cuts work productivity, and harms intellectual development

How do the results from HKI fieldwork fit into the context of recent nationwide data analyses?

To begin with, the new HKI data and analyses are consistent with those of the qualitative Kecamatan survey, reported upon earlier by SMERU, whose health impact index illustrated that people on Java have been severely affected. In addition, some of the specific HKI findings on nutritional impact -- such as the increase in the numbers of women with lower BMI -- are echoed in the recently-analyzed post-crisis round of the Indonesian Family Life Survey, IFLS2+.

In general, the IFLS2+ and other national data sources such as the 1998 UNICEF 100 Villages Survey show complex patterns, with some nutrition and health indicators improving and others worsening. This complexity is puzzling at times -- for example, data from the IFLS2+ survey show little or no negative impacts on indicators such as maternal and child anemia and under-five malnutrition (measured by weight for height) -- both areas where HKI data shows increasingly negative impacts.

This disparity in results may be a function of the smoothing of results that occurs in analyzing IFLS2+ and 100 Villages data in aggregate at the national level, compared to the regionally-specific sample presented by HKI.

What are the policy implications of these findings?

  • the impact of the crisis continues to deepen, especially for the urban poor, who appear under-served by current safety net programs

  • multiple micronutrient supplementation is needed for those most at-risk

  • continuing data on health, micronutrient, and anthropometric indicators is needed to monitor the crisis' impact on the most vulnerable groups n SMERU Team

Sebagaimana diberitakan SMERU dalam dua newsletter terdahulu, beberapa program data kuantitatif telah menghasilkan informasi baru mengenai dampak sosial krisis Indonesia. Analisa tersebut menemukan bahwa:

  • dampak krisis cukup serius, tetapi heterogen dan kompleks, menghantam keras di beberapa daerah dan kelompok sosial, tetapi kurang terasa di tempat lainnya

  • intensitas dampak krisis tidak berkorelasi dengan ukuran kemiskinan pra-masa krisis

  • daerah urbanisasi sangat terpukul oleh krisis

Analisa data pendahuluan dikumpulkan oleh Helen Keller International sejak awal Januari tahun ini, sebagian dari Sistem Penelitian Gizi telah menghasilkan informasi spesifik mengenai dampak krisis terhadap beberapa kelompok yang paling rentan - HKI melaporkan dominasi kekurangan micro-nutrisi dan energi yang sangat mengkhawatirkan pada wanita dan anak-anak miskin di Jakarta & Surabaya.

  • Anemia dan kekurangan Vitamin A bertambah pada anak balita dan ibunya

  • terdapat dominasi yang tinggi (20%) pada penurunan berat badan pada ibu-ibu sebagaimana diukur oleh indek bobot badan (body mass index=BMI), dan angka ini kian terus meningkat

  • keadaan lebih parah lagi di daerah miskin perkotaan pada saat ini dibandingkan dengan waktu krisis pada titik terendah di daerah-daerah (diukur dalam bulan Juni-Agustus 1998)

Apakah artinya penemuan-penemuan tersebut bagi orang Indonesia?

  • kekurangan Vitamin A tidak hanya dapat berakibat kebutaan tetapi juga penyakit akibat sistem imun yang telah rusak

  • Anemia kekurangan zat besi merusak sistem imun serta mengurangi kapasitas fisik dan mental, menurunkan produktivitas kerja, dan membahayakan perkembangan intelektual.

Bagaimana caranya agar hasil kerja lapangan HKI dapat disesuaikan ke dalam konteks analisa data nasional yang baru dilakukan?

Sebagai permulaan, data dan analisa HKI konsisten dengan data dan analisa hasil survei kualitatif kecamatan yang dilaporkan terlebih dahulu oleh SMERU, indeks dampak kesehatan mana menggambarkan bahwa orang di Jawa telah terkena secara serius.

Sebagai tambahan, beberapa penemuan spesifik HKI mengenai dampak gizi --- seperti halnya pertambahan jumlah wanita dengan BMI yang menurun --- diumumkan lagi dalam hasil survey Kehidupan Keluarga Indonesia yang dilakukan pada perputaran masa setelah krisis yang dianalisa baru-baru ini, IFLS2+.

Secara umum, IFLS2+ dan sumber data nasional lainnya seperti survey 100 Desa UNICEF 1998 menunjukkan pola dengan beberapa indikator gizi dan kesehatan yang membaik dan yang lainnya memburuk. Kompleksitas ini kadang-kadang membingungkan - sebagai contoh, data dari survey IFLS2+ menunjukkan sedikit atau bahkan tidak adanya dampak negatif pada indikator-indikator seperti anemia ibu dan anak serta kekurangan gizi pada balita (diukur dengan berat badan terhadap tinggi badan) - kedua bagian di mana data HKI menunjukkan dampak yang semakin negatif. Perbedaan hasil tersebut mungkin merupakan fungsi homogenisasi yang terjadi dalam menganalisa data IFLS2+ dan data 100 desa secara agregat pada tingkat nasional, dibandingkan dengan contoh spesifik secara daerah yang diberikan oleh HKI.

Apakah implikasi politis dari penemuan ini?

  • dampak krisis makin mendalam, terutama untuk yang miskin di daerah urbanisasi, yang tampaknya kurang terlayani oleh program jaringan pengaman yang sedang berjalan

  • micro-gizi tambahan ganda diperlukan oleh yang paling tak terlindungi

  • data yang terus menerus mengenai kesehatan, micro gizi, dan indikator antropometrik diperlukan guna memonitor dampak krisis terhadap kelompok yang paling tak terlindungi n Tim SMERU

The Cycle of Crisis

data4.gif (15243 bytes)

Helen Keller International Indonesia works with the Government of Indonesia, UNICEF, the University of Diponegoro, and the U.S. Agency for International Development to improve the health and well-being of the Indonesian people. The HKI data and findings described here generated by the Nutrition Surveillance System which generates data on nutritional status of target populations in six provinces, and compares those data with pre-crisis data on nutrition. Contact Dr. Martin Bloem at 62-21-5263872 or 2526059 for more information.

The other findings described here are described in a SMERU Special Report "Social Impacts of the Indonesia Crisis: New Data and Policy Implications", written by Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, and Lant Pritchett. Data are from the 1998 Kecamatan Rapid Poverty Assessment, the February 1998 SUSENAS, the August 1998 UNICEF 100 Villages Survey, and the 1998 Indonesian Family Life Survey 2+. For more information, contact Lant Pritchett at the World Bank, tel: 62-21-52993000, or Sudarno Sumarto at SMERU, tel: 62-21-336336.

Helen Keller International Indonesia bekerjasama dengan pemerintah Indonesia, UNICEF, Universitas Diponegoro, dan Badan Amerika Serikat untuk perkembangan internasional dalam memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Data dan penemuan HKI yang dijelaskan di sini dihasilkan oleh sistem pengawasan gizi yang menghasilkan data mengenai status pergizian penduduk yang dituju dalam enam propinsi, dan membandingkan data tersebut terhadap data pra-krisis mengenai gizi. Hubungi Dr. Martin Bloem di 62-21-5263872 atau di 2526059 untuk keterangan lebih lanjut.

Penemuan lainnya yang dijelaskan di sini diterangkan dalam sebuah laporan khusus SMERU "Dampak Sosial Krisis di Indonesia: Data dan Implikasi Politis Baru" ditulis oleh Jessica Poppele, Sudarno Sumarto dan Lant Pritchett. Data diperoleh dari Evaluasi Cepat Kemiskinan di Kecamatan 1998, SUSENAS Pebruari 1998, survei 100 desa UNICEF Agustus 1998, dan survei 2+ Kehidupan Keluarga Indonesia 1998. Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi Lant Pritchett di World Bank, telepon 62-21-52993000, atau Sudarno Sumarto di SMERU, telepon 62-21-3141224.

Previous | Back to Table of Content | Next