Tetap Meneliti di Usia Senja

April 2017 | Media BPP 2(2)

 

 

 

 

 

Memasuki usia 72 tahun, tidak menghalangi Syaikhu Usman untuk tetap bergiat dalam dunia penelitian. Bahkan menurutnya, jika akal dan pikiran dibiarkan istirahat begitu saja setelah sekian lama digunakan untuk meneliti justru akan mengalami kemunduran berfikir dan mempercepat penuaan.

Uban putih terlihat memancar dari rambut rapih bergaya belah pinggir seorang pria. Sebuah kacamata terlihat menyantol pada hidung dan garis mata yang mulai berkerut. Seluruh rambutnya boleh beruban semua, tapi langkah kakinya dengan sigap menaiki anak tangga di Gedung Smeru Research Institute dengan cepat ke lantai 2. Bukan selangkah demi langkah anak tangga yang dia naiki, namun langsung dua anak tangga sekaligus. Tidak tampak ngos-ngosan ataupun menggangu persendian yang umumnya dirasakan kakek seusianya. “Silahkan duduk,” katanya dengan sopan.

Kami memulai perbincangan tentang dunia penelitian, dunia yang meliriknya hingga bisa seperti sekarang. “Di SMERU Research Institute ini ketertarikan saya akan dunia penelitian semakin mantap,” terang pria asal Palembang, Sumatera Selatan itu.

Mengawali pendidikan sebagai calon guru di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan) Yogyakarta (kini menjadi UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) membuat pria kelahiran Tanjung Batu, Sumatera Selatan 1945 itu menyimpang dari keluarga besarnya yang berlatar belakang pesantren semua. “Di masa itu memang sudah mulai muncul kesadaran bahwa kepesantrenan tidak otomatis menentukan kesantrian seseorang,” terang bapak enam orang anak itu.

Selengkapnya.....