Pemantauan Dampak Sosial-Ekonomi Krisis Keuangan Global 2008/09 di Indonesia - Dampak terhadap Industri Manufaktur Indonesia, sampai Agustus 2009


Hasil pemantauan pemberitaan di berbagai media massa sampai awal Agustus 2009 memperlihatkan adanya dampak krisis keuangan global (KKG) 2008/09 terhadap sektor industri manufaktur di Indonesia, terutama industri yang berorientasi ekspor dan menggunakan bahan baku impor. Gejalanya terlihat, antara lain, dari peningkatan biaya produksi, penurunan pesanan, dan penumpukan stok di sejumlah perusahaan. Industri-industri yang paling banyak diberitakan terdampak oleh KKG 2008/09 adalah TPT (tekstil dan produk tekstil–termasuk garmen), kerajinan, kayu dan produk kayu (termasuk mebel dan rotan), kertas, dan elektronik. Selain itu, pemberitaan tentang dampak terhadap industri makanan dan minuman, dan industri perikanan lebih terbatas. Dalam upaya mengatasi kemelut ini, langkah yang diambil oleh industri adalah, antara lain, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja kontrak, pekerja harian, dan bahkan pegawai tetap. Berbagai pemberitaan melaporkan bahwa Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah, telah dan sedang menyiapkan beberapa langkah penyelamatan untuk mengurangi dampak krisis, di antaranya, melalui bantuan untuk mencari pasar alternatif di luar dan dalam negeri, menurunkan suku bunga Bank Indonesia, dan pengetatan impor barang jadi. Meski demikian, keberlangsungan usaha industri terdampak masih mengkhawatirkan.