Analisis Dampak Prukades Untuk Percepatan Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Desa yang Inklusif

Nila Warda , Asep Kurniawan, Ridho Al Izzati , M. Sulton Mawardi
2019

Mitra Kerja

Donor: Bp. Septian Hario Seto

 
 

Gambaran dan Perkembangan

Latar Belakang 

Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) sebagai wujud kerja sama antardesa yang bermitra dengan pengusaha, saat ini berjumlah 343 Prukades, berada di 148 kabupaten di 29 provinsi di Indonesia. Terdapat 18 komoditas yang diusahakan melalui kemitraan dengan 30 perusahaan.

Besarnya investasi potensial mencapai Rp 47 triliun. Rencana luas lahan yang digarap 3,2 juta hektar dengan tenaga kerja yang akan terserap 20 juta jiwa, dan upah yang akan dibagikan setiap tahunnya akan mencapai Rp 353 triliun.  

Sejak mulai dilaksanakan pada 2017, belum dilakukan analisis mendalam mengenai kontribusi program Prukades dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi atau perbaikan kesejahteraan masyarakat desa.

 

Tujuan 

  1. Mengevaluasi perbedaan perubahan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan antara kabupaten-kabupaten yang sudah menjalankan Prukades dan kabupaten-kabupaten sekitar yang belum menerapkan program Prukades
  2. Mengidentifikasi faktor dan aktor pendorong keberhasilan penerapan Prukades dan program lain yang diterapkan oleh Kementrian Desa atau NGO pegiat desa selama 5 tahun terakhir.
  3. Menyusun teori perubahan (Theory of Change - ToC) bagi percepatan pertumbuhan ekonomi perdesaan yang inklusif, berdasarkan pengalaman dan pembelajaran selama lima tahun terakhir

 

Metodologi 

Analisis dilakukan dengan mengkombinasikan antara analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.

Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode DID (difference-in-difference) untuk melihat perbedaan perubahan pertumbuhan ekonomi (sektoral atau general) dan tingkat kemiskinan antara kabupaten treatment dan kabupaten control dari sebelum dan sesudah program Prukades diterapkan.

Analisis kualitatif dilakukan untuk mengungkap faktor kunci yang berperan dalam perubahan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan yang terjadi mengikuti diterapkannya program Prukades ini. Hal ini dilakukan melalui metode FGD dan/atau wawancara mendalam.

Di tingkat nasional, pihak yang dilibatkan adalah Kementrian Desa dan PDT juga NGO yang sudah banyak bergelut dalam bidang pembangunan perdesaan. Sebagai pembanding, akan diamati juga program/kebijakan selain Prukades yang sudah pernah diterapkan oleh Kementrian Desa dan PDT juga program pembangunan atau pemberdayaan desa yang pernah diterapkan oleh NGO pegiat desa.

Hasil dari FGD di tingkat nasional ini kemudian akan dikonfirmasi dengan studi kualitatif di dua kabupaten yang sudah menerapkan program Prukades, yang dianggap berhasil dan yang stagnan. Di tingkat kabupaten, pihak yang dilibatkan adalah perusahaan swasta sebagai mitra Prukades, pemerintah kabupaten (Dinas-dinas terkait), pemerintah desa, NGO local (jika ada), dan masyarakat.

Keluaran akhir dari analisis kuantitatif dan kualitatif ini adalah dibangunnya Theory of Change atas efektivitas kebijakan/program percepatan pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif yang diharapkan dapat diturunkan menjadi kebijakan/program prioritas revitalisasi perekonomian desa.


Bagikan Postingan Ini